Selasa, Juni 07, 2011

Negatif Kenyataan

Apabila kau mengarahkan matamu dari langit
maka dapatlah kau tangkap diriku di sana
di mana aku tidak terbaring atau meringkuk
karena kesombonganku sedikitnya masih sanggup menopang
kerangka kertas yang tidak lengkap
dengan mata yang dipatri ke atas

Padahal sudah buta
namun masih ngotot ingin melihat
di sini aku masih mendongak
setidaknya untuk dapat rasakan kehangatan dari jauh
yang selalu kunantikan dan sebaiknya datang
sesaat sebelum badai gersang menerpa

Adiksi meracuni akal sehatku
karena ku selalu ingat dengan pasti
engkau bukanlah sekedar bulan
yang bermegah di atas kemuliaan orang lain
engkau adalah satu titik di langit malam
yang selalu ada tatkala langit tersingkap
dan berkata, "ya, aku ada di sana,"

Jauh di atas sana,
memancarkan kemuliaannya sendiri
dan menarik delapan, bahkan sembilan benda
atau bahkan lebih lagi!
melihat aku adalah yang ke-bilangan sekian
yang mendongak dan mendengar
keberadaanmu dari sana

Makhluk ini sesungguhnya sangatlah sederhana
karena panggilan yang tidak ketara itu
di luar logika, dapat kalahkan kebisingan kebudayaan
dan panggilan yang tidak ketara itu
dapat menggilakan semua pendengarnya
hingga seorang pembual dapat melebarkan sayapnya
dan beranjak dari debu tanah ke angkasa
dengan bertopangkan nafas sesaat

Tidakkah ini sangat jelas?
Bagaimana nafas membawamu taklukkan angkasa
dan embusan membisakanmu memeluk bintang?
Bahkan aksi pun tak dapat menapaki langit!
Oh, pembakaran ialah yang menanti di sana
dan meleleh hempaslah dia sebelum dia dapat keluar lepas

Sehingga tiada sesuatu yang tersisa yang baik
karena memang tidak ada yang baik dari dalamnya, oh, penusuk belakang
jadi memang seharusnya tidak ada yang menoleh heran
ketika bualannya meleleh dan dia jatuh dari langit
juga semua kebanggaannya menariknya jatuh semakin cepat
dialah yang menghancurkan karyanya sendiri
dialah yang mengangkat tangan terhadap Yang Maha Kuasa

Tunduk sekarang, kembali teracung kelak
ketika matanya pulih dan pembakaran itu mereda
maka kembalilah dia melihat ke atas
dan membualkan sayapnya keluar guna merengkuh bintang

Sebenarnya tidak ada yang heran!
Tidak ada yang tertarik 'tuk melihat
karena memang tidak jauh dari tempatnya berpijak
kembali dia mematung dengan kepala di bawah
dan lutut membengkok patah
sembari berujar, "selama ku puas demikian;
selama ku akan demikian"

Ya, kesombongan masih terucap dari sana!
Rahang patah tak tahu di untung itu masih berani bertutur kata
dan memang inilah negatif kenyataan
yang sampai sekarang tak berani kucetak lewati malam
karena tak berani ku berharap temukan senyuman
yang dapat membawa fakta kembali berjalan

0 komentar:

Poskan Komentar