It's been a week since I re-opened my tumblr and start doing some things there. Because I don't feel like doing anything, maybe I'll share some points regarding my acceptance to Padjadjaran University.
First of all, I am really grateful for not having to worry over SMUP result or whether I have to start following UNPAR timeline or not. But I do not deny that I am also disappointed that I was not accepted in the University of Indonesia; yea, we know that UI is like the best State University in Indonesia and UI college students are more vocal than other universities. But I am disappointed, frankly speaking, more because I can't join UI MUN Club.
Yes, disappointed because I can not join an "UKM" (Unit Kegiatan Mahasiswa). Silly? Yes, but it's my life, so get lost with your "objective" judgment.
And believe me, it still stings when I heard that some certain people (not some certain others who deserves a seat in UI) got into UI and has the chance to join the MUN Club [and maybe won't even bother to see what MUN is like].
However, I started to think around and see whether it's really an apocalypse. Surprisingly, it is not! I onced thought, "Dang! I really wanna join UI MUN Club!" but now I can say, "Ok, there isn't any MUN Club in UNPAD. Let's make it happen!". And for this wonderful change of mind, I thank God for recovering me, and building up my confidence. I noticed that I got arrogant as time goes by, pretty much like when I arrogantly challenged God (but I am not, this time), specifically arrogant as a change maker. I began to decrease my sympathy (even to myself) and cynically criticize anything that passed me. My mindset returned rebellious and I am ready to face the world; the new page of life before me.
So hopefully, I can be a real change maker and change things to the way I want them to be. If I haven't heard of official UNPAD MUN Club (only UNPAD for MUN blog), then I'll create it! As I can not go to HNMUN '11 and '12 and GMUN '11, I'll go to '13 and '12, respectively! As I sucked at debating, then I'll try to hone my criticism in Varsity level! If people stop believing, then I [through love] will turn those expectations into goals! When people sat and mourn, I'll broaden my shoulders and bear the cross! P-R-O-L-I-F-E-R-A-T-I-O-N! C-H-A-N-G-E-M-A-K-E-R! G-O-D-S-P-E-E-D!
Senin, Juli 04, 2011
Selasa, Juni 07, 2011
Negatif Kenyataan
Apabila kau mengarahkan matamu dari langit
maka dapatlah kau tangkap diriku di sana
di mana aku tidak terbaring atau meringkuk
karena kesombonganku sedikitnya masih sanggup menopang
kerangka kertas yang tidak lengkap
dengan mata yang dipatri ke atas
Padahal sudah buta
namun masih ngotot ingin melihat
di sini aku masih mendongak
setidaknya untuk dapat rasakan kehangatan dari jauh
yang selalu kunantikan dan sebaiknya datang
sesaat sebelum badai gersang menerpa
Adiksi meracuni akal sehatku
karena ku selalu ingat dengan pasti
engkau bukanlah sekedar bulan
yang bermegah di atas kemuliaan orang lain
engkau adalah satu titik di langit malam
yang selalu ada tatkala langit tersingkap
dan berkata, "ya, aku ada di sana,"
Jauh di atas sana,
memancarkan kemuliaannya sendiri
dan menarik delapan, bahkan sembilan benda
atau bahkan lebih lagi!
melihat aku adalah yang ke-bilangan sekian
yang mendongak dan mendengar
keberadaanmu dari sana
Makhluk ini sesungguhnya sangatlah sederhana
karena panggilan yang tidak ketara itu
di luar logika, dapat kalahkan kebisingan kebudayaan
dan panggilan yang tidak ketara itu
dapat menggilakan semua pendengarnya
hingga seorang pembual dapat melebarkan sayapnya
dan beranjak dari debu tanah ke angkasa
dengan bertopangkan nafas sesaat
Tidakkah ini sangat jelas?
Bagaimana nafas membawamu taklukkan angkasa
dan embusan membisakanmu memeluk bintang?
Bahkan aksi pun tak dapat menapaki langit!
Oh, pembakaran ialah yang menanti di sana
dan meleleh hempaslah dia sebelum dia dapat keluar lepas
Sehingga tiada sesuatu yang tersisa yang baik
karena memang tidak ada yang baik dari dalamnya, oh, penusuk belakang
jadi memang seharusnya tidak ada yang menoleh heran
ketika bualannya meleleh dan dia jatuh dari langit
juga semua kebanggaannya menariknya jatuh semakin cepat
dialah yang menghancurkan karyanya sendiri
dialah yang mengangkat tangan terhadap Yang Maha Kuasa
Tunduk sekarang, kembali teracung kelak
ketika matanya pulih dan pembakaran itu mereda
maka kembalilah dia melihat ke atas
dan membualkan sayapnya keluar guna merengkuh bintang
Sebenarnya tidak ada yang heran!
Tidak ada yang tertarik 'tuk melihat
karena memang tidak jauh dari tempatnya berpijak
kembali dia mematung dengan kepala di bawah
dan lutut membengkok patah
sembari berujar, "selama ku puas demikian;
selama ku akan demikian"
Ya, kesombongan masih terucap dari sana!
Rahang patah tak tahu di untung itu masih berani bertutur kata
dan memang inilah negatif kenyataan
yang sampai sekarang tak berani kucetak lewati malam
karena tak berani ku berharap temukan senyuman
yang dapat membawa fakta kembali berjalan
Minggu, November 28, 2010
Just Flashed
Just something that flashed in my mind for a while.
Jadi gini, jujur aja, wa selalu kaget kalo denger (nggak peduli berapa kalipun wa ngedengernya, wa ampe sekarang pun masih ngerasa kaget) kabar bahwa dia tau blog wa. Tau blog wa yang ini, tau mybwg, tau malesishere (#yaiyalah #plak); simply karena selama ini wa meneruskan hidup dengan asumsi wa nggak dipandang apapun ama dia karena emang hubungan wa ama dia sebatas need-to-know aja, sedangkan kalo dia tau mybwg (yang sekarang udah dibuka untuk umum), dia bakal tau sejahat apa wa, seburuk apa wa, seancur apa wa, se-desperate apa wa, dan various aspects selama wa "mencoba mengejar" dia (well, sebenernya nggak mengejar juga, karena alih-alih lari, dia malah diem dan siap menghadapi semua yang bisa wa pake - and she obviously single-handedly won). Sementara on the other hand, wa nggak tau apa-apa tentang dia.
Terus?
Not a big deal, sih, karena wa udah berhenti bermimpi untuk ini. Wa udah menutup diri, kan, dan hanya menyerahkan masalah ini kepada Tuhan kalo ada yang bisa minimal setara atau malah lebih bagus lagi lebih baik dari dia. Of course, rada bego, sih, kalo yang kayak dia aja nggak mau, gimana yang lebih tinggi lagi? Haha, tapi emang wa orangnya bego, sih. Bahkan nge-post ini pun bego.
Nggak penting.
Tapi tetep aja, tiap kali wa denger itu, wa pasti otomatis kebayang dia di depan komputer ngebuka terus ngebaca. Meskipun imajinasi wa selalu menggambarkan dia cuma baca dengan wajah datar/ngantuk terus close setelah rasanya udah cukup ngebacanya, wa tetep penasaran, sebenernya apa, sih, yang terjadi? Wa tau dia nggak akan ngomong ke wa, bahkan kalo wa tanya. Wa ngerti kalo wa nanya, itu akan jadi pertanyaan retoris, dan nggak ada efeknya buat wa, karena pasti dia tetep dan nggak berubah so it's kinda useless.
Meskipun wa tau hal itu, wa tetep penasaran. Tentu aja wa nggak akan ngejar dia lagi, sebuah keputusan yang [keliatannya sangat] bermanfaat bagi kedua belah pihak, dan meskipun wa limerent ke dia, wa tetep menghargai keputusan itu. Well, bahkan wa nggak mau sakit lagi, kan? Karena itu, mungkin wa akan nanya ke dia ketika semuanya terkesan oke. Misalnya, mungkin pas pernikahannya, gitu - jadi, kan, dia udah tambah kuat komitmennya dan wa udah [lebih keliatan] nggak isa ngusik lagi; atau mungkin pas wa mau meninggal - jadi apapun yang dia omongin, wa nggak akan bisa ngapa-ngapain lagi; intinya, pas dia yakin wa nggak bisa ngapa-ngapain lagi, sih, yea, itu aja.
So, until then (karena kayaknya wa akan terus inget, tapi nggak begitu ngebet), kita lihat saja nanti. Haha.
P.S.
Aduh, wa kesannya pathetic amat, ya? :))
Emang, sih.
Selasa, Oktober 19, 2010
Jadi, Gimana, Ya?
Jadi, gimana, ya?
Hari ini wa dapet banyak banget berita baru. Mengenai personal things dan pelajaran serta yang lainnya. Harus dikatakan, berkat Tuhan lah yang menjaga wa nggak overwhelmed karena semua hal yang melesak masuk ke dalam benak wa, yang tentunya membutuhkan tempat di benak wa.
Hhh, cuma... wa baru tahu aja.
Jadi, gimana, ya?
Senin, Maret 01, 2010
First Things
do you invent nothing, girl?
irrational.
lost on vicious errand.
yearn over urinoir.
satire off.
punch lightly, earn another sick errand.
just usurpers shall taunt.
burnt usurpers reeked nothing.
melancholic years.
damned remnants, eggs are doomed!
Senin, Februari 15, 2010
"Dear"
Cuma 1 kata, sih, tapi itu dealt a blow ke wa pas wa ngebaca kata itu dalam salah satu tweet si Ola. Wa tau, wa ngga ada chance sama sekali, and dia akan nekat mengorbankan apapun demi cintanya. Yup, ngga usah make embel-embel komitmen di sini, karena wa tau, yang dilakukannya itu semata-mata karena cinta. Ya, wa tau.
And wa juga tau kata itu pasti ditujukan ke Digun. Yea, siapa lagi? Masak wa? Idiotic abis kalo mikir kayak gitu! :)) :)) :)) Yea, wa tau.
Dan meskipun wa ngga berharap banyak dalam hubungan ini - malah ngga begitu berharap lagi sekarang. Cuma... kata itu masih nyerang wa; bikin dada wa sakit (wa tau hati ngga ada di rongga dada, jadi wa bilangnya dada aja) and tertekan. Wa sempet sesek nafas - and wa tau itu bukan karena wa pilek. Wa juga sempet puyeng - and wa tau itu ngga ada hubungannya ama kondisi kesehatan wa.
Really... it dealt a significant blow upon me. Perhaps it's because I've met her just then and her images are still burning deep in my mind. How beauty she is in her dress and trousers, how humble and simple her appearance is, that it might drag me to the bottom of the deepest abyss. Yes, I love her, I love her so much that my love for Salsa faded off for moments, and I can barely remember her in my mind, for only Ola's "[im]perfect" image that runs down in my mind that time, and now. Honestly, I can't even picture Salsa as I typed this post down, but I could always see glimpses of Ola under the orange light that made her skin looks fairer than usual (although her usual tan skin only add an exotic element upon her :D) whenever I close my eyes. The way her mouth curved into a smile... Oh, God... I just can't get enough of her.
Thus, I believe my suffering is near to its end. It's only getting... I don't know. Do you?
Honesty
Hari ini wa ngerayain ultah XQS yang pertama. And, nge-skip semuanya, wa cuma pengen cerita 1 bagian, yaitu pas Ami ngasih tau tentang pengalamannya di Jepang. Oke, wa sih ngga terlalu peduli dengan komentar orang-orang di Jepang kalo kita (anak XQS) dibilang cute, tapi begitu komentar kedua terlancar, yaitu ada yang bilang Ola cantik, wa langsung nyeletuk.
"She is."
Honestly, wa ngga mikir apa-apa saat itu kecuali nyeletuk untuk mengklarifikasi kalo misalnya si Ola emang cantik [banget, di mata wa]. Well si Ami langsung burst into laugh, and Ica yang kayaknya ngedenger juga. Wa ngga tau Hafizh and yang laen mudeng ato ngga, and wa ngga begitu percaya beberapa orang yang cuma ngerespon, "hah?" atau, "apa?" itu bener-bener ngga tau. After all, sebenernya wa terkejut juga, sih, kalo celetukan wa ternyata kedengeran, soalnya suara wa pelan and ngga begitu mencolok dibandingkan suara-suara yang laen. Wa juga ngga begitu yakin kejadian ini akan tersebar, tapi wa tau, kejadian ini berdampak; and wa rada males kalo misalnya ntar si Ola ngejauh lagi dari wa --a Ow, man...
But, she is. She is [very] beautiful :)
Langgan:
Entri (Atom)
